Bermaaf-maafan sebelum memasuki bulan Ramadhan???

Sering kali kita jumpai di masyarakat kita sebuah kebiasaan yang dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadhan ini. Diantaranya seperti berziarah ke makam-makam, bermaaf-maafan kepada keluarga, teman, atau tetangga, ada pula yang mandi di sungai untuk membersihkan dirinya dari dosa sebelum masuk kedalam bulan Ramadhan, dan banyak lagi yang lainnya.

Ingat saudaraku semua… Kalau semua itu kita anggap sebagai suatu ibadah. Kalian harus ingat suatu hal yang menjadi ushul fiqih dalam beribadah, yaitu : Hukum asal ibadah adalah HARAM, sampai ada dalil atau keterangan atau perintah yang shohih yang mengHALALkannya.

Jadi ingat, kita tidak boleh gegabah dalam hal ibadah. Semuanya itu harus selalu merujuk pada Kitabullah dan Sunnah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wassalam ‘alaa fahmissalaf.

“Law kaana khoiron lasabakuuna ilaihi”… Jikalau perbuatan itu baik, niscaya para sahabat telah mendahului kita melakukannya.

Berikut ana berikan artikel tentang kesalahan umat islam dalam menyambut Ramadhan khususnya masalah bermaaf-maafan .

Berikut adalah penggalan hadits yang biasa kita dengar selama ini dari rekan2 kita :

** Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin” Ditanyakan kepadanya : “Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?” Beliau bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

  • Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada)
  • Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri
  • Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya

Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali.

Hadits ini cacat, karena tidak ada periwayatnya. Dan yang pasti bertentangan dengan Hadits berikut yang SHOHIH :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin” Ditanyakan kepadanya : “Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?” Beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan “Amin”, maka akupun mengucapkan Amin….” [Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin]

Disalin dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 27-28, Pustaka Al-Haura.

Yang lebih lengkap lagi akan saya salinkan dari buku Birrul Walidain oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul Qalam

“Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, amin, amin”. Para sahabat bertanya. “Kenapa engkau berkata ‘Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin”.

[Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma’uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka’ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 (Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah)]

Dengan demikian, hadist yang shohih diatas tidak ada hubungan dengan keharusan bermaafan sebelum puasa Ramadhan.

Meminta maaf dan memaafkan seseorang dapat dilakukan kapan saja, dan tidak ada tuntunan syari’at harus dikumpulkan dulu dan menunggu sampai menjelang bulan Ramadhan.

Wallohu a’lam bishshowaab…. Semoga berguna

Sumber : http://portal-abuyazid.blogspot.com

About abufadilah

Lahir di Kota Bontang, Kalimantan Timur,Pendidikan dari TK, SD, SMP, dan SMA semua di kampung halaman. Perantauan pertama setelah lulus SMA, untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Saya kuliah di Universitas Islam Indonesia. Di kampus ini jenjang pendidikan S1 dan S2 saya selesaikan. Blog ini sekedar mengisi waktu rehat, juga mencoba membagikan ilmu-ilmu yang saya dapatkan selama kuliah dulu,serta beberapa ilmu lainnya yang mudah2an dapat bermanfaat buat pengunjung. Mungkin itu dulu saja sebagai perkenalan saya, untuk surat menyurat dapat mengirimkan via email ke elvan.listiawan@gmail.com
This entry was posted in Artikel Islam and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s